BAB I
PENALARAN ILMIAH
Nama : Dellina rizki azhari
NPM : 22213152
Kelas : 3EB26
- Pengertian dan Jenis
Penalaran
Penalaran
adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau
petunjuk menuju suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses
berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Bahan
pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau
pendapat para ahli (otoritas).
Secara umum, ada dua jenis penalaran atau pengambilan kesimpulan, yakni penalaran induktif dan deduktif.
Secara umum, ada dua jenis penalaran atau pengambilan kesimpulan, yakni penalaran induktif dan deduktif.
a.
Penalaran
Induktif
Penalaran induktif
adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang khusus menuju
sesuatu yang umum. Penalaran Induktif dapat dilakukan dengan tiga cara:
Generalisasi
Adalah proses penalaran
yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik
kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi
diturunka dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi,
wawancara, atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik,
kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial ekonomi atau
hukum dan dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itu, orang membentuk
opini, sikap, penilaian, keyakinan atau perasaan tertentu.
Contoh penalaran
induktif dengan cara generalisasi, yaitu :
·
Berdasarkan
pengalaman, seorang ibu dapat membedakan atau menyimpulkan arti tangisan
bayinya, sebagai ungkapan rasa lapar atau haus, sakit atau tidak nyaman.
·
Berdasarkan
pengamatannya, seorang ilmuwan menemukan bahwa kambing, sapi, onta, kerbau,
kucing, harimau, gajah, rusa, kera adalah binatang menyusui. Hewan-hewan itu
menghasilkan turunannya melalui kelahiran. Dari temuannya itu, ia membuat
generalisasi bahwa semua binatang menyusui mereproduksi turunannya melalui
kelahiran.
Analogi
Adalah suatu proses yag
bertolak dari peristiwa atau gejala khusus yang satu sama lain memiliki
kesamaan untuk menarik sebuah kesimpulan. Karena titik tolak penalaran ini
adalah kesamaan karakteristik di antara dua hal, maka kesimpulannya akan
menyiratkan ”Apa yang berlaku pada satu hal, akan pula berlaku untuk hal
lainya”. Dengan demikian, dasar kesimpula yang digunakan merupakan ciri pokok
atau esensial dari dua hal yang dianalogikan.
Contoh penalaran induktif dengan cara analogi
adalah sebagai berikut:
·
Dalam riset
medis, para peneliti mengamati berbagai efek dari bermacam bahan melalui
eksperimen binatang seperti tikus dan kera, yang dalam beberapa hal memiliki
kesamaan karakter anatomis dengan manusia. Dari kajian itu, akan ditarik
kesimpulan bahwa efek bahan-bahan uji coba yang ditemukan pada binatang juga
akan terjadi pada manusia.
Hubungan Kausal
(Sebab Akibat)
Penalaran induktif
dengan melalui hubungan kausal (sebab akibat) merupakan penalaran yang bertolak
dari hukum kausalitas bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terjadi
dalam rangkaian sebab akibat. Tak ada suatu gejala atau kejadian pun yang
muncul tanpa penyebab. Cara berpikir seperti itu sebenarnya lazim digunakan
dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya dalam dunia ilmu pengetahuan.
Contoh:
·
Ketika seorang
ibu melihat awan tebal menggantung, dia segera memunguti pakaian yang sedang
dijemurnya. Tindakannya itu terdorong oleh pengalamannya bahwa mendung tebal (sebab)
adalah pertanda akan turun hujan (akibat).\
b.
Penalaran
Deduktif
Penalaran
deduktif didasarkan atas prinsip hukum,teori atau keputusan lainnya yang
berlaku umum untuk suatu hal ataupun gejala. Penalaran deduktif bertolak dari
sebuah kesimpulan yang didapat dari satu pernyataan yang umum. Proposisi tempat
menarik kesimpulan disebut premis. Penarikan kesimpulan (konklusi) secara
deduktif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
·
Menarik
Kesimpulan Secara Langsung
Simpulan (konklusi)
secara langsung ditarik dari satu premis.
Contoh: Semua ikan
berdarah dingin. (premis)
Sebagian yang berdarah
dingin adalah ikan. (simpulan)
·
Menarik
Kesimpulan Secara Tidak Langsung
Simpulan
secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Premis pertama
bersifat umum dan premis kedua bersifat khusus. Beberapa jenis penalaran
deduksi dengan penarikan kesimpulan secara tidak langsung, antara lain:
§ Silogisme Kategorial
Silogisme
kategorial ialah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi yang terdiri dari
dua proposisi premis dan satu proposisi kesimpulan. Premis bersifat umum
disebut premis mayor dan bersifat khusus disebut premis minor. Subjek simpulan
disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor. Untuk menghasilkan
kesimpulan harus ada term penengah.
Contoh: Semua
manusia bijaksana.
Semua
polisi adalah manusia.
Jadi, semua polisi bijaksana.
Aturan umum silogisme
kategorial, yaitu:
·
Silogisme harus
terdiri atas tiga term yaitu term mayor, term minor dan term simpulan.
·
Silogisme
terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor, dan simpulan.
·
Dua premis yang
negatif tidak dapat menghasilkan simpulan .
·
Bila salah satu
premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
·
Dari premis yang
positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
·
Dari dua premis yang khusus tidak dapat
ditarik satu simpulan.
·
Bila salah satu
premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
·
Dari premis
mayor yang khusus dan premis minor yang negative tidak dapat ditarik satu
simpulan.
§ Silogisme Hipotesis
Silogisme
hipotesis terdiri atas mayor yang berproposisi kondisional hipotesis. Kalau
premis minornya membenarkan anteseden, maka simpulannya membenarkan konsekuen
begitu juga sebaliknya.
Contoh: Jika besii
dipanaskan, besi akan memuai.
Besi
dipanaskan.
Jadi,
besi memuai
§ Silogisme Alternatif
Silogisme
alternatif terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Kalau premis
minor membenarkan salah satu alternatif, maka simpulannya akan menolak
alternatif lain.
Contoh: Dia adalah seorang kiai atau professor.
Dia seorang kiai
Jadi,
dia bukan seorang professor.
·
Entimen
Entimen
adalah bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena sudah
diketahui secara umum,tetapi yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan. Contoh:
Dia menerima hadiah peertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
- Definisi
Proposisi
Proposisi adalah
pernyataan tentang hubungan yang terdapat di antara subjek dan predikat. Dengan
kata lain, proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk
subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat. Kalimat Tanya, kalimat
perintah, kalimat harapan,dan kalimat inversi tidak dapa disebut proposisi.
Hanya kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi. Tetapi
kalimat-kalimat itu dapat dijadikan proposisi apabila diubah bentuknya menjadi
kalimat berita yang netral.
Jenis-Jenis Proposisi
- Berdasarkan
bentuk
Berdasarkan bentuk dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
Tunggal adalah proposisi yang terdiri dari satu
subjek dan satu predikat atau hanya mengandung satu pernyataan.
Contoh :
o Semua petani harus bekerja keras.
o Setiap pemuda adalah calon pemimpin
Contoh :
o Semua petani harus bekerja keras.
o Setiap pemuda adalah calon pemimpin
Majemuk atau jamak adalah proposisi yang
terdiri dari satu subjek dan lebih dari satu predikat.
contoh :
o Semua petani harus bekerja keras dan hemat.
o Paman bernyanyi dan menari.
contoh :
o Semua petani harus bekerja keras dan hemat.
o Paman bernyanyi dan menari.
- Berdasarkan
sifat
Berdasarkan sifat, proporsisi dapat dibagi ke dalam
2 jenis, yaitu:
Kategorial adalah proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya tidak membutuhkan / memerlukan syarat apapun.
Contoh:
o Semua kursi di ruangan ini pasti berwarna coklat.
o Semua daun pasti berwarna hijau.
Kategorial adalah proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya tidak membutuhkan / memerlukan syarat apapun.
Contoh:
o Semua kursi di ruangan ini pasti berwarna coklat.
o Semua daun pasti berwarna hijau.
Kondisional adalah proposisi yang membutuhkan syarat tertentu di dalam hubungan subjek dan predikatnya. Proposisi dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu: proposisi kondisional hipotesis dan disjungtif.
o Contoh proposisi kondisional:
jika hari mendung maka akan turun hujan
o Contoh proposisi kondisional hipotesis:
Jika harga BBM turun maka rakyat akan bergembira.
o Contoh proposisi kondisional disjungtif:
Christiano ronaldo pemain bola atau bintang iklan.
- Berdasarkan
kualitas
Proposisi ini juga dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
Positif (afirmatif)
proposisi yang membenarkan adanya persesuaian hubungan antar subjek dan predikat.
Contoh:
o Semua dokter adalah orang pintar
o Sebagian manusia adalah bersifat sosial
Negatif
proposisi yang menyatakan bahawa antara subjek dan predikat tidak mempunyai hubungan.
Contoh:
o Semua harimau bukanlah singa
o Tidak ada seorang lelaki pun yang mengenakan rok
proposisi yang membenarkan adanya persesuaian hubungan antar subjek dan predikat.
Contoh:
o Semua dokter adalah orang pintar
o Sebagian manusia adalah bersifat sosial
Negatif
proposisi yang menyatakan bahawa antara subjek dan predikat tidak mempunyai hubungan.
Contoh:
o Semua harimau bukanlah singa
o Tidak ada seorang lelaki pun yang mengenakan rok
- Berdasarkan
kuantitas
proposisi dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu:
Umum
Predikat proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh subjek.
Contoh:
o Semua gajah bukanlah kera
o Tidak seekor gajah pun adalah kera
Khusus
predikat proposisi hanya membenarkan atau mengingkari sebagian subjeknya.
Contoh:
o Sebagian mahasiswa gemar olahraga
o Tidak semua mahasiswa pandai bernyanyi
Predikat proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh subjek.
Contoh:
o Semua gajah bukanlah kera
o Tidak seekor gajah pun adalah kera
Khusus
predikat proposisi hanya membenarkan atau mengingkari sebagian subjeknya.
Contoh:
o Sebagian mahasiswa gemar olahraga
o Tidak semua mahasiswa pandai bernyanyi
- Definisi
inferensi
Inferensi adalah
tindakan atau proses yang berasal kesimpulan logis dari premis-premis yang
diketahui atau dianggap benar. Kesimpulan yang ditarik juga disebut sebagai
idiomatik. Hukum valid inference dipelajari dalam bidang logika.
Inferensi manusia (yaitu bagaimana manusia menarik kesimpulan) secara tradisional dipelajari dalam bidang psikologi kognitif, kecerdasan buatan para peneliti mengembangkan sistem inferensi otomatis untuk meniru inferensi manusia.inferensi statistik memungkinkan untuk kesimpulan dari data kuantitatif.
Inferensi manusia (yaitu bagaimana manusia menarik kesimpulan) secara tradisional dipelajari dalam bidang psikologi kognitif, kecerdasan buatan para peneliti mengembangkan sistem inferensi otomatis untuk meniru inferensi manusia.inferensi statistik memungkinkan untuk kesimpulan dari data kuantitatif.
Contoh inferensi :
Inkoherensi
tidak ada definisi inferensi deduktif telah ditawarkan. definisi yang ditawarkan adalah untuk inferensi INDUKTIF.
Filsuf Yunani didefinisikan sejumlah silogisme ,bagian tiga kesimpulan yang benar,yang dapat digunakan sebagai blok bangunan untuk penalaran yang lebih kompleks. Kita mulai dengan yang paling terkenal dari mereka semua:
• Semua manusia fana
• Socrates adalah seorang pria. Oleh karena itu, Sokrates adalah fana.
Inkoherensi
tidak ada definisi inferensi deduktif telah ditawarkan. definisi yang ditawarkan adalah untuk inferensi INDUKTIF.
Filsuf Yunani didefinisikan sejumlah silogisme ,bagian tiga kesimpulan yang benar,yang dapat digunakan sebagai blok bangunan untuk penalaran yang lebih kompleks. Kita mulai dengan yang paling terkenal dari mereka semua:
• Semua manusia fana
• Socrates adalah seorang pria. Oleh karena itu, Sokrates adalah fana.
Pembaca dapat memeriksa
bahwa tempat dan kesimpulan yang benar, tetapi Logika berkaitan dengan
inferensi: apakah kebenaran kesimpulan mengikuti dari yang tempat?
Validitas kesimpulan tergantung pada bentuk kesimpulan. Artinya, kata “berlaku” tidak mengacu pada kebenaran atau kesimpulan tempat, melainkan dengan bentuk kesimpulan. Inferensi dapat berlaku bahkan jika bagian yang palsu, dan dapat tidak valid bahkan jika bagian-bagian yang benar. Tapi bentuk yang valid dengan premis-premis yang benar akan selalu memiliki kesimpulan yang benar.
Sebagai contoh, perhatikan bentuk berikut symbological trek:
• Semua apel biru.
• Pisang adalah apel.
Oleh karena itu, pisang berwarna biru.
Validitas kesimpulan tergantung pada bentuk kesimpulan. Artinya, kata “berlaku” tidak mengacu pada kebenaran atau kesimpulan tempat, melainkan dengan bentuk kesimpulan. Inferensi dapat berlaku bahkan jika bagian yang palsu, dan dapat tidak valid bahkan jika bagian-bagian yang benar. Tapi bentuk yang valid dengan premis-premis yang benar akan selalu memiliki kesimpulan yang benar.
Sebagai contoh, perhatikan bentuk berikut symbological trek:
• Semua apel biru.
• Pisang adalah apel.
Oleh karena itu, pisang berwarna biru.
- Definisi
Implikasi
Implikasi adalah
rangkuman, yaitu sesuatu dianggap ada karena sudah dirangkum dalam fakta atau
evidensi itu sendiri. Banyak dari kesimpulan sebagai hasil dari proses berpikir
yang logis harus disusun dengan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang
tercakup dalam evidensi (=implikasi), dan kesimpulan yang masuk akal
berdasarkan implikasi (=inferensi).
Implikasi dapat merujuk kepada:
• Dalam manajemen
• Dalam logika
Jadi definis implikasi dalam bahasa indonesia adalah keterlibtan atau keadaan terlibat.
Contoh : implikasi manusi sebagai objek percobaan atau penelitian semakin terasa manfaat dan kepentinganya.
• Dalam manajemen
• Dalam logika
Jadi definis implikasi dalam bahasa indonesia adalah keterlibtan atau keadaan terlibat.
Contoh : implikasi manusi sebagai objek percobaan atau penelitian semakin terasa manfaat dan kepentinganya.
- Wujud
Evidensi
Evidensi adalah semua
fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas, dan
sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran.
Dalam argumentasi, seorang penulis boleh mengandalkan argumentasinya pada pernyataan saja, bila ia menganggap pembaca sudah mengetahui fakta-faktanya, serta memahami sepenuhnya kesimpulan-kesimpulan yang diturunkan daripadanya.
Dalam argumentasi, seorang penulis boleh mengandalkan argumentasinya pada pernyataan saja, bila ia menganggap pembaca sudah mengetahui fakta-faktanya, serta memahami sepenuhnya kesimpulan-kesimpulan yang diturunkan daripadanya.
Evidensi itu berbentuk
data atau informasi, yaitu bahan keterangan yang diperoleh dari suatu sumber
tertentu, biasanya berupa statistik, dan keterangan-keterangan yang dikumpulkan
atau diberikan oleh orang-orang kepada seseorang, semuanya dimasukkan dalam
pengertian data (apa yang diberikan) dan informasi (bahan keterangan).
Kita mungkin mengartikannya sebagai “cara bagaimana
kenyataan hadir” atau perwujudan dari ada bagi akal”. Misal Mr.A mengatakan
“Dengan pasti ada 301.614 ikan di bengawan solo”, apa komentar kita ? Tentu
saja kita tidak hanya mengangguk dan mengatakan “fakta yang menarik”. Kita akan
mengernyitkan dahi terhadap keberanian orang itu untuk berkata demikian.
Tentu saja reaksi kita tidak dapat dilukiskan sebagai “kepastian”, Tentu saja kemungkinan untuk benar tidak dapat di kesampingkan, bahwa dugaan ngawur atau ngasal telah menyatakan jumlah yang persis. Tetapi tidak terlalu sulit bagi kita untuk menangguhkan persetujuan kita mengapa ? Karena evidensi memadai untuk menjamin persetujuan jelaslah tidak ada. Kenyataannya tidak ada dalam persetujuan terhadap pernyataan tersebut.
Sebaliknya, kalau seorang mengatakan mengenai ruang di mana saya duduk, “Ada tiga jendela di dalam ruang ini,” persetujuan atau ketidak setujuan saya segera jelas. Dalam hal ini evidensi yang menjamin persetujuan saya dengan mudah didapatkan.
Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.
Tentu saja reaksi kita tidak dapat dilukiskan sebagai “kepastian”, Tentu saja kemungkinan untuk benar tidak dapat di kesampingkan, bahwa dugaan ngawur atau ngasal telah menyatakan jumlah yang persis. Tetapi tidak terlalu sulit bagi kita untuk menangguhkan persetujuan kita mengapa ? Karena evidensi memadai untuk menjamin persetujuan jelaslah tidak ada. Kenyataannya tidak ada dalam persetujuan terhadap pernyataan tersebut.
Sebaliknya, kalau seorang mengatakan mengenai ruang di mana saya duduk, “Ada tiga jendela di dalam ruang ini,” persetujuan atau ketidak setujuan saya segera jelas. Dalam hal ini evidensi yang menjamin persetujuan saya dengan mudah didapatkan.
Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.
- Cara
menguji Data, Fakta, dan Autoritas
- Cara
menguji Data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran
harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui
cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan
sebagai evidensi.
Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut :
Observasi
Kesaksian
Autoritas
Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut :
Observasi
Kesaksian
Autoritas
- Cara
menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang
diperoleh adalah fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut ada
dua tingkat. Yang pertama untuk meyakinkan bahwa semua bahan data tersebut
adalah fakta. Yang kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan
sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
Cara menguji fakta ada dua yaitu :
Konsistensi
Koheresi
Cara menguji fakta ada dua yaitu :
Konsistensi
Koheresi
- Cara
menguji Autoritas
Menghidari semua desas-desus atau kesaksian, baik
akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang
sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental. Ada
beberapa cara sebagai berikut :
- Tidak
mengandung prasangka
- pendapat
disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli atau
pada hasil eksperimen yang dilakukannya.
- Pengalaman
dan pendidikan autoritas
Dasar kedua menyangkut pengalaman dan pendidikan autoritas. Pendidikan yang diperoleh menjadi jaminan awal. Pendidikan yang diperoleh harus dikembangkan lebih lanjut dalam kegiatan sebagai seorang ahli. Pengalaman yang diperoleh autoritas, penelitian yang dilakukan, presentasi hasilpenelitian dan pendapatnya akan memperkuat kedudukannya. - Kemashuran
dan prestise
Ketiga yang harus diperhatikan adalah meneliti apakah pernyataan atau pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas hanya sekedar bersembunyi dibalik kemashuran dan prestise pribadi di bidang lain. - Koherensi
dengan kemajuan
Hal keempat adalah apakah pendapat yang diberikan autoritas sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman atau koheren dengan pendapat sikap terakhir dalam bidang itu.
Sumber :
http://triezdamila.blogspot.co.id/p/penalaran.html
https://hadi27.wordpress.com/penalaran-dalam-penulisan-karya-ilmiah/
https://orintalo.wordpress.com/2014/10/13/definisi-penalaran-proposisi-inferensi-dan-implikasi-wujud-evidensi-cara-menguji-data-dan-fakta-dan-cara-menilai-autoritas/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar