BAB
II
BERPIKIR
DEDUKTIF
Nama :
Dellina Rizki Azhari
NPM :
22213152
Kelas : 3EB26
1. Konsep
berpikir deduktif
Deduksi
berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan
dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi
adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang
bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan
kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan
silogismus.
Dalam
deduktif telah diketahui kebenarannya secara umum, kemudian bergerak menuju
pengetahuan baru tentang kasus-kasus atau gejala-gejala khusus atau individual.
Jadi deduksi adalah proses berfikir yang bertolak dari sesuatu yang umum
(prinsip, hukum, toeri, keyakinan) menuju hal khusus. Berdasarkan sesuatu yang
umum itu ditariklah kesimpulan tentang hal-hal yang khusus yang merupakan
bagian dari kasus atau peristiwa itu.
2.
Konsep Bernalar
Dalam Penalaran
Penalaran adalah
suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau petunjuk
menuju suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir
yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Bahan
pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau
pendapat para ahli.
Penulisan
ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu masalah. Penulisan
ilmiah juga merupakan uraian atau laporan tentang kegiatan, temuan atau
informasi yang berasal dari data primer dan / atau sekunder, serta disajikan
untuk tujuan dan sasaran tertentu. Informasi yang berasal dari data primer
yaitu didapatkan dan dikumpulkan langsung dan belum diolah dari sumbernya
seperti tes, kuisioner, wawancara, pengamatan / observasi. Informasi tersebut
dapat juga berasal dari data sekunder yaitu telah dikumpulkan dan diolah oleh
orang lain, seperti melalui dokumen (laporan), hasil penalitian, jurnal,
majalah maupun buku. Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh
pengamatan, peninjauan atau penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut
metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya
dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Atas dasar itu, sebuah karya tulis ilmiah harus
memenuhi tiga syarat:
·
Isi kajiannya
berada pada lingkup pengetahuan ilmiah
·
Langkah pengerjaannya
dijiwai atau menggunakan metode ilmiah
·
Sosok
tampilannya sesuai da telah memenuhi persyaratan sebagai suatu sosok tulisan
keilmuan.
Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa
penalaran menjadi bagian penting dalam proses melahirkan sebuah karya ilmiah.
Penalaran dimaksud adalah penalaran logis yang mengesampingkan unsur emosi,
sentimen pribadi atau sentimen kelompok. Oleh karena itu, dalam menyusun karya
ilmiah metode berpikir keilmuan yang menggabungkan cara berpikir/penalaran
induktif dan deduktif, sama sekali tidak dapat ditinggalkan.
Metode berpikir keilmuan sendiri selalu ditandai dengan adanya:
Metode berpikir keilmuan sendiri selalu ditandai dengan adanya:
·
Argumentasi
teoritik yang benar, sahih dan relevan
·
Dukungan fakta
empiris
·
Analisis kajia
yang mempertautkan antara argumentasi teoritik dengan fakta empirik terhadap
permasalahan yang dikaji.
Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5
aspek/matra. Kelima aspek tersebut
adalah:
- Aspek
keterkaitan
Aspek keterkaitan
adalah hubungan antarbagian yang satu dengan yang lain dalam
suatu karangan. Artinya,
bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu
sama lain.
- Aspek
urutan
Aspek urutan adalah
pola urutan tentang sesuatu yang harus didahulukan/ditampilkan
kemudian (dari hal yang
paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan). Suatu
karangan ilmiah harus
mengikuti urutan pola pikir tertentu.
- Aspek
argumentasi
Yaitu bagaimana
hubungan bagian yang menyatakan fakta, analisis terhadap fakta,
pembuktian suatu
pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan.
- Aspek
teknik penyusunan
Yaitu bagaimana pola
penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten.
Karangan ilmiah harus
disusun dengan pola penyusunan tertentu, dan teknik ini bersifat
baku dan universal.
- Aspek
bahasa
Yaitu bagaimana
penggunaan bahasa dalam karangan tersebut? baik dan benar? Baku?
Karangan ilmiah disusun
dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah
- Silogisme
Kategorial
Silogisme yang terjadi
dari tiga proposisi.
Premis
Umum : Premis Mayor (My)
Premis
Khusus : Premis Minor (Mn)
Premis Simpulan : Premis
Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat
subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan
disebut term minor.
Aturan
umum dalam silogisme kategorial sebagai berikut :
- Silogisme
harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah
- Silogisme
terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan
kesimpulan.
- Dua
premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
- Bila
salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
- Dari
premis yang postif, akan dihasilkan simpulan yang positif
- Dari
dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
- Bila
premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
- Dari
premis mayor khusus dan premis mayor negatif tidak dapat ditarik satu
simpulan.
Contoh silogisme
Kategorial :
My : Semua
pekerja di Sharp adalah lulusan S1.
Mn : Novry adalah
pekerja.
K
: Novry lulusan S1.
My : Tidak ada
manusia yang sempurna.
Mn : Novry adalah
manusia.
K
: Novry tidak sempurna.
My : Semua
pekerja memiliki keahlian.
Mn : Novry tidak
memiliki keahlian.
K
: Novry bukan pekerja.
- Silogisme
Hipotesis
Silogisme
yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Konditional
hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya
membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, bila simpulannya juga
menolak berarti konsekuen.
Contoh :
My : Jika tidak
ada makanan, manusia akan kelaparan.
Mn : Makanan
tidak ada.
K
: Jadi, manusia akan kelaparan.
My : Jika tidak
ada matahari, tumbuhan tidak akan berfotosintesis.
Mn : Tumbuhan
tidak akan berfotosintesis.
K
: Tumbuhan tidak dapat matahari.
- Silogisme
Alternatif
Silogisme yang terdiri
atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi Alternatif yaitu
bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya, simpulannya akan
menolak alternatif yang lain.
Contoh :
My : Supplier
Sharp berada di Bandung atau Sukabumi.
Mn : Supplier
Sharp berada di Bandung.
K
: Jadi, Supplier Sharp tidak berada di Sukabumi.
Sumber :
https://getnewidea.wordpress.com/2014/10/18/penalaran-deduktif-silogisme-kategorial-hipotesis-alternatif-dan-entimem/
http://triicecsfabregas.blogspot.co.id/2014/04/konsep-penalaran-ilmiah-dalam-kaitannya.html
http://ilyaszulhilmi.blogspot.co.id/2013/03/berfikir-deduktif.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar